Maret, 2023.
Pagi itu tiba-tiba mama meminta saya untuk memanggil kakak saya yang nomor tiga, Adi. Tiba-tiba tangisnya pecah, kami bingung kenapa. Rupanya mama baru selesai menelpon kakak saya yang nomor dua, namanya Ari. Beliau kala itu masih tinggal di Jakarta.
“Di, pokoknya besok kamu harus jemput Kakak di Jakarta. Bawa pulang dia!” saya bingung, ngapain pakai acara jemput menjemput segala? Kakak saya yang bernama Ari itu bukan anak kecil lagi. Usianya bahkan terpaut 18 tahun lebih tua daripada saya.
“Kakak kenapa emang?” Kakak saya yang nomor tiga bertanya. “kakak harus cuci darah, dia sakit!” Mama saya menangis tersedu. Saya bingung. Saya tidak tahu harus bereaksi apa. Meskipun beliau kakak kandung saya, tapi jika dikalkulasikan berapa lama kami pernah menghabiskan waktu bersama selama seumur hidup saya, maka itu tak mungkin lebih dari tiga bulan.
Kakak saya yang bernama Adi pun termenung sejenak.
“Nggak usah nunggu besok, nanti malam saya berangkat.”
Kakak saya yang bernama Ari itu memang sulit ditebak. Hampir enam bulan lalu dia tiba-tiba pulang ke rumah, namun kali ini tidak sendirian. Sudah lama mama saya mengharapkan dia membawa calon istri, tapi saat itu, meskipun usianya hampir menginjak usia 45, yang ia bawa bukanlah calon istrinya, melainkan sahabatnya sejak zaman kuliah, namanya Mbak Nana.
Ternyata, kedatangannya enam bulan lalu itu membawa maksud. Kala itu kakak saya baru mengaku (lebih tepatnya dipaksa mengaku oleh Nana) ke mama saya kalau ternyata dia sakit gagal ginjal stadium akhir.
Mbak Nana bertanya-tanya kenapa dari awal nggak jujur aja ke mama kalau sakit? lalu kakak saya bilang: “nyokap gue udah kehilangan anak pertamanya Na, Mas gue. Dan itu juga karena ginjal. Gue nggak mau beliau sedih.”
Sedikit banyak saya bisa memahami maksud Kak Ari. Saya adalah saksi hidup gimana menderitanya mama saat kakak pertama kami meninggal. Kala itu saya masih berusia delapan tahun. Tiba-tiba duka menyelimuti keluarga kami. Seseorang yang paling periang dan penyayang di keluarga kami mendadak pergi ke pangkuan Ilahi.
Saya menangis tersedu, ayah saya memarahi saya. “jangan nangis! Kakak kamu udah nggak sakit lagi!” begitu kata baliau. Saya hanya bisa meratapi peti mati di hadapan saya setelah sehari semalam kami menungu kepulangannya (kala itu kakak pertama kami yang bernama Arief meninggal di salah satu RS di kota Tegal).
Sebelumnya saya mendengar sirine dari jauh, lalu sesampainya di depan rumah kami, mama membuka pintu mobil ambulance lalu berlari menangis sambil memeluki ayah dan saya. Adegan itu terus terputar berulang-ulang di ingatan saya. Ingatan dari seorang anak kecil berusia delapan tahun.
Kak Ari pun tahu benar, berbulan-bulan mama menangisi kepergian Kak Arief. Di depan TV beliau menangis; di ruang tamu menangis; di meja makan menangis. Pokoknya kala itu tiada hal yang bisa dilakukan oleh mama kami selain menangis. Mungkin itu yang membuat Kak Ari enggan memberitahu mama dari awal.
Kala itu, dia bahkan meyakinkan mama kalau dia akan menempuh segala cara untuk sembuh bahkan sampai berobat ke Jepang. Saya pun diminta untuk membaca jurnal-jurnal penelitian yang berkaitan dengan gagal ginjal untuk membantu penyembuhannya. Meskipun kami berdua tahu adalah hal yang mustahil untuk mengembalikan fungsi ginjal yang rusak menjadi kembali sedia kala (selain melakukan cangkok ginjal), tapi itulah penghiburan yang diam-diam kami (saya dan Kak Ari) sepakati bersama untuk mama.